Dokumentasi

Thursday, September 4, 2014


Sharse kali ini kita akan membahas tentang dokumentasi yang diperlukan oleh para traveler yang
Enra Riesti Shohab
akan disampaikan oleh Enra Riesti Shohab salah satu mahasiswa tingkat akhir jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Semarang. 


Nah buat kamu yang penasaran yuk baca sharse kita kali ini :

Salah satu motivasi hiking dan backpacking adalah mengunjungi tempat yang indah, menarik, unik, menyejukkan mata, dan atau mengedukasi. Pemandangan dan temuan menarik di sepanjang perjalanan tersebut tentu ingin kita abadikan dalam sebuah foto atau video. Selain itu, tentu saja ekspresi kita dan teman-teman selama perjalanan—apalagi kalau sudah sampai di puncak, klimaksnya perjalanan. Sayang tentunya sayang jika dilewatkan begitu saja. Oleh karena itu, kamera telah menjadi gadget esensial bagi para hikers dan backpackers untuk mendokumentasikan momen penting dalam perjalanan.

Dua kata kunci bagi kita yang sedang ingin mendokumentasikan momen perjalanan adalah fleksibilitas dan kemudahan perangkat. Secanggih apapun kamera saat ini, tetaplah kita penentu bagus tidaknya sebuah foto.

Ini ada tips untuk yang biasa backpacking:

  • Siapkan kamera sebelum berangkat

Sebelum berangkat, pastikan kamera yang akan kita bawa sudah kita pahami cara penggunaannya dan dalam keadaan siap pakai. Pastikan pula kapasitas memori yang digunakan dan memori dalam kondisi kosong. Bawa baterai cadangan dengan jumlah yang telah diperkirakan. Lebih baik menggunakan baterai isi ulang (rechargeable) karena ada kemungkinan menemukan sumber listrik di posko pendakian atau rumah penduduk yang disinggahi

  • Perkirakan apa yang akan didokumentasikan

sebelum memulai perjalanan, selain tentukan momen yang ingin diambil. Misalnya, dalam sebuah perjalanan kita menargetkan memotret gambaran keseluruhan perjalanan kita—tempat-tempat penting seperti desa yang dilewati, angkutan umum ke TKP, kehidupan penduduknya, atau hasil pertaniannya; keseharian kita di perjalanan seperti membangun tenda, membuat perapian, makan bersama memotret, titik-titik ekstrim, tokoh masyarakat, bendera sponsor/organisasi di puncak gunung, dsb

  •  Tentukan, kamera poket atau SLR

Saat ini ada banyak pilihan kamera kok. Dengan kamera SLR kita bisa mengambil gambar sesuai selera dengan memanfaatkan berbagai fitur kamera jenis ini. Dengan kamera poket yang ukurannya kecil dan ringkas, kita bisa lebih leluasa dalam memotret. Dan saat ini banyak kamera poket dengan teknologi mendekati SLR (misalnya GoPro, atau smartphone Samsung Galaxy Ace dan iPhone 4)*. Jika menurut kita gambar-gambar yang akan kita ambil nanti bisa dipenuhi dengan kamera poket, tentu tidak efisien membawa SLR. Lain halnya jika gambar yang kita inginkan hanya bisa diperoleh dengan kamera SLR. Jika memungkinkan bawa keduanya, dan tentukan fungsinya masing-masing. Untuk penggunaan SLR dalam perjalanan alam terbuka, kami menyarankan untuk membawa satu lensa dengan range lebar (lensa sapu jagat) sehingga fotografer tindak perlu sering menganti lensa. Bawa juga lensa lebar untuk mengambil foto-foto pemandangan di kala senggang atau disaat memungkinkan melakukan penggantian lensa.
Salah satu hasil jepretan Enra

  • Bagi tugas 
 Jika ada dua atau lebih fotografer dalam waktu yang bersamaan, usahakan para fotografer ini tidak memakai lensa yang sama. Bagilah tugas antarfotografer dengan mengambil tema yang berbeda. Untuk fotografer yang memakai lensa sapu jagat, fokuslah pada momen-momen yang membutuhkan detil. Untuk fotografer yang menggunakan lensa lebar, fokus mengambil gambar-gambar dengan perspektif lebih luas seperti pemandangan alam dan juga gambaran momen secara meneluruh.
  • Peralatan menunjang
Bawa peralatan penunjang seperlunya. Dalam perjalanan alam terbuka yang membutuhkan keringkasan bawaan, tripod yang besar tentu akan merepotkan. Tripod bisa diganti dengan gorillapod yang lebih kecil dan bisa dikemas ke dalam tas. Bawa juga pembersih lensa seperti tisu dan lens pen dan tempatkan di posisi yang mudah dijangkau. Pada malam hari, kalungkan dan kenakan selalu headlamp untuk kemudahan pengaturan kamera. Untuk filter, cukup gunakan filter ultraviolet yang telah terpasang di lensa. Membawa banyak filter dengan ring/holder tambahan untuk perjalanan alam terbuka biasanya cukup merepotkan.

  • Tas kecil tersendiri 

 Bawalah tas kecil khusus untuk menempatkan kamera beserta peralatan pendukungnya. Biasanya tas kamera seperti ini dikalungkan di depan tubuh sewaktu punggung membawa carrier. Kondisikan kamera pada tas kecil itu sehingga mudah diambil sewaktu-waktu dibutuhkan.

  • Siapkan dray bag 
Dray bag atau kantong kedap air mutlak diperlukan dalam perjalanan alam terbuka. Dalam kondisi hujan atau basah, kamera yang merupakan alat elektronik harus dilindungi. Pilihlah dry bag dengan ukuran yang cukup sehingga bisa menampung tas kecil penyimpan kamera serta menyisakan sedikit ruang yang bisa dipakai sebagai space untuk menaruh kamera di luar tas kecil jika dibutuhkan sewaktu-waktu saat hujan
  • Kalungkan kamera selama perjalanan 
Kalungkan selalu kamera di leher selama perjalanan. Karena momen menarik bisa terjadi kapan saja. Memang ini cukup menggangu, karena tangan kita mau tidak mau akan sering memagang kamera, apalagi jika jalur perjalanan yang terjal dan mendaki sehingga butuh bantuan pegangan tangan saat bergerak. Untuk kondsi ini, silakan disesuaikan dengan keamanan.
  • Posisikan selalu dalam mode Auto
Saat kamera dikalungkan, posisikan kamera dalam mode Auto karena momen bisa datang tiba-tiba, tidak terprediksi. Setelah selesai menggunakan mode Manual (misalnya), kembalikan ke menu Auto saat stand by.
  •  Periksa lensa 
Di alam terbuka, lensa sering berembun dan kotor. Di kala istirahat atau waktu yang memungkinkan, jangan malas untuk membersihkannya. Jaga juga alat pembersih kamera dalam kondisi bersih.
  • Ambil gambar dengan tenang
Jangan asal memotret. Berpikirlah beberapa detik sebelum menekan shutter: tentukan frame gambar, tentukan apa saja yang akan dimasukan ke dalam foto (komposisi). Tahan gerakan tangan saat mengambil gambar. Perhatikan pula kondisi cahaya minim yang menyebabkan shutter speed menjadi lebih lambat. Terburu-buru dan tidak tenang hanya memperbesar kemungkinan gambar yang diambil kabur. Ga nyesel?

  • Ambil gambar dari beberapa sudut
Jangan memotret satu objek beberapa kali dari sudut yang sama. Jika poin sebelumnya diaplikasikan dengan baik, satu angle cukup satu foto saja. Coba ambil angle lain untuk objek atau momen yang sama. Berhematlah shutter countmu!
  • Kuat dan sabar
Menjadi fotografer di alam terbuka membutuhkan stamina yang prima. Kita harus kuat dan sabar. Kondsikan badan harus selalu fit karena kita harus menunda istirahat dan makan untuk mendokumentasikan teman-teman kita yang sedang istirahat atau bersantap. Jangan malas, dan bersiaplah untuk momen-momen menarik yang bisa muncul kapan saja. 


Dengan langkah-langkah di atas, niscaya dokumentasi perjalanan kita akan lengkap dan berkualitas.
Dokumentasi perjalanan juga harus disesuaikan dengan tujuan perjalanan kita. Ada perjalanan bertujuan keilmuan/riset dan ada juga yang rekreasi semata. Saya [Enra] pernah yang untuk riset. Untuk yang satu ini butuh persiapan sedetil mungkin. Waktu itu kami membuat dokumentasi perjalan riset adegan pra-shooting dan dilakukan di Gunung Merapi. Semua detil disiapkan mulai dari baterai sampai peralatan keamanan. 

Shooting film dokumenter berbeda dengan film fiksi karena butuh riset yang lebih panjang, bisa sampai 5 tahun malah. Jumlah krunya tidak sebanyak film fiksi. Sejauh saya belajar, untuk sebuah film dokumenter, minimal ada lima orang kru. Tapi jumlah ini menyesuaikan isu yang diangkat. Berbeda dengan film fiksi, alur cerita lebih utama daripada skrip. Film dokumeter karya anak Indonesia banyak yang mengikuti style Amerika—ada juga style Eropa,—yang banyak point of view (POV). WD1000 lumayan untuk perlengkapan shooting. Film The Last Train dan Iron Man bisa jadi referensi buat dokumentasi perjalanan. Kunjungi enralazua.wordpress.com, di sana ada cerita tentang belajar bikin film terutama perjalanan pembuatan film dokumenter.
Selain memotret, catat juga momen-momen yang sudah kita ambil, biar tidak lupa itu pas kapan. Catatan kecil ini bisa jadi caption atau watermark di foto.

Soal videotaking
Saya [Enra] lebih suka documentary video karena saya suka bercerita. Apa yang ada di kepala, saya jadikan ‘premis’ sebelum ambil video.
Kita biasanya ambil banyak video dengan alasan untuk stock gambar, tapi belum tentu kepake. So, better hemat memori. Lebih baik lagi bila punya daftar klip yang ingin dituangkan. Kalau video dokumentasi, kadang pas di-edit adaaaaaa aja yang kurang.

Kalau mau buat video perjalanan, bisa dibikin skripnya dulu. Minimal dibuat timeline sehingga ada plot yang berisi keterangan apa saja yang akan diambil. Kalau ternyata di lapangan ga sesuai harapan, ya ga masalah. Yang penting ada timeline dulu. Malah, mungkin di jalan kita dapat yang lebih bagus dari rencana semula. Sambil jalan, jangan lupa ngisi checklist biar ga kelewat.
Soal ngedit video, diperlukan taste dan jiwa entertaining yang tinggi. Salah-salah, penonton bisa bosen. Kenapa sebuah video bisa membosankan? Mungkin karena ekspektasi kita, hehe. Diperlukan pemahaman konteks dan cita rasa pembuat video sehingga kita lebih mudah melihat keseluruhan ide si pembuat video. Video bisa pakai host atau pun tidak. Tapi untuk trip video, biar seru dan hidup lebih baik pakai host.

Sesi Tanya Jawab :
Apa pengalaman yang tidak terlupakan? 
 Menyelesaikan dokumentasi perjalanan selama perjalanan di kereta api Jogja – Jakarta saat Traventurace.

Cukup poket atau harus SLR? 
Kamera dengan 10 Mega Pixel sudah bagus. Iphone 4 juga sudah oke. Untuk kamera poket, saya [Enra] merekomendasikan Powershot-nya Canon.

Gimana untuk dokumentasi underwater atau benda bergerak pada umumnya?
Gunakan flash, terutama flash khusus underwater. Trik lainnya adalah naikin ISO. Tapi hati-hati bakal ada noise yang muncul. ISO tinggi bisa mempercepat shutter speed. Jadi kemungkinan blur berkurang.

Apa itu noise? 
Salah satu contohnya bunder-bunder cahaya di foto yang gelap karena eksposur yang berlebihan atau mungkin cahaya yang masuk ga pas dengan setelan kamera.
Tambahan…
Prinsip dari kamera adalah cahaya. Memang ada perbedaan pas mainin cahaya dibandingkan pakai mode Auto.

Di kamera yang bisa diatur (biasanya) terdiri dari 3 mode utama:

  •  Basic mode (mode automatis): flash, no flash, or let the camera decide.

  •   Image mode yang sudah disiapkan oleh kamera seperti ladscape, panorama, night, portrait, dsb..

  • Creative/Advanced mode… di sini teman-teman bisa melatih mix and match besar aperture/diafragma, shutter speed, and ISO. Practice makes perfect!

Kata beberapa pro, untuk objek lanskap/nature pakailah Nikon, human/animal pakai Canon, sedangkan Fujifilm yang warnanya paling ‘jujur’.
Anyway, mengambil gambar atau video (dokumentasi) tidak hanya soal kualitas gambar—yang mengikuti kualitas gadget—tapi juga soal cerita yang dibangun, momen yang ingin ditangkap, dan tentu saja soal skill pengambilan gambar dan citarasa.
Take nothing but pictures, leave nothing but footprints, and kill nothing but time.
–Mokhamad Fahmi Fauzi

*Sekarang sudah banyak beredar kamera outdoor. Salah satunya merek GoPro, dengan kualitas ga kalah dengan jepretan DSLR, biasanya digunakan untuk merekam. Bentuknya relative kecil, shockproof, dan waterproof. Kekurangannya ga bisa diatur fokusnya dan hasilnya ga nongol di layar LCD kamera. Untuk itu, kita bisa gunakan aplikasi smartphone untuk mengoperasikannya. Tapi Gopro mahal sih. Atau gunakan smarphone dengan kualitas kamera yang baik misalnya Samsung Galaxy Ace. Lalu, ada beberapa kamera DSLR yang bisa dioperasikan lewat smartphone (khususnya untuk capture), misalnya Canon 7d atau sepantarannya sehingga bisa buat selfie.

Herping: Serunya Sensasi “Berpetualang dalam Sunyi”

Wednesday, September 3, 2014

Hai FIM Traventure! Sharing Sesion yang bertepatan dengan Hari Kemerdekaan ini akan membahas tentang Herping. Jika sebelumnya bomber berasal dari member Traventure, kali ini bomber merupakan bagian dari member Traventure. Bomber sharse kali ini adalah suami dari member Traventure yang bernama Maysarah Bakri atau yang dikenal dengan Sarah.
Sebelum masuk ke pembahasan Herping, yuk kita kenalan terlebih dulu dengan bomber yang satu ini!
Akhamd Junaedi Siregar
Pria yang menjadi bomber sharse edisi Herping ini bernama Akhmad Junaedi Siregar. Herping sendiri merupakan hobi dari pria yang akrab dipanggil Bang Jun ini. Pria kelahiran Medan 18 Februari 28 tahun silam ini lulusan Biologi dan sedang menggeluti aktivitas desain grafis juga fotografi. Bang Jun sudah pernah traveling ke Sumatera, Jawa, Papua, Malaysia, dan Hongkong dengan traventure interest pada satwa dan budaya lokal tempat yang dikunjunginya. Pria yang mempunyai destinasi impian ke Madinah ini mengaku memiliki pengalaman herping yang tak terlupakan saat herping di Papua.
Mengapa herping di Papua menjadi tidak terlupakan? Lalu apa sebenarnya herping itu sendiri? Apa asiknya herping dan apa bedanya dengan traveling dan petualangan lainnya? Jawabannya ada di dalam sharse kita kali ini. So, yuk kita simak sharsenya!
***




Herping
Herping adalah sebuah kegiatan mengamati amfibi dan reptil. Asal katanya berasal dari herphes, yakni hewan melata. Kedua kelas amfibi dan reptil sebagai obyek pengamatan itu disebut herpetofauna. Biasanya para herper (pengamat amfibi dan reptil) melakukan kegiatan ini pada malam hari mengikuti aliran sungai di suatu hutan atau tempat wisata.

Menggeluti Herping yang Bernilai Edukasi
Awalnya kegiatan ini berkembang dari kampus terutama fakultas Kehutanan dan Biologi. Karena temuan amfibi dan reptil banyak mengejutkan pengamat, maka kegiatan ini semakin berkembang. Keutamaannya kegiatan ini adalah memiliki nilai edukasi, olahraga dan cinta lingkungan. Pada saat ini sudah mulai digeluti beberapa komunitas misalnya di Kota Medan, yakni Herpetologer Mania.
Herpetologer Mania berasal dari FMIPA USU dan kemudian anggotanya semakin meluas dari umum dan rutin melakukan kegiatan herping ke berbagai lokasi. Biar lebih mengasyikkan, biasanya lokasi wisata yang masih asri menjadi tujuannya. Di samping itu, ada target-target temuan yang memang menjadi primadona temuan, seperti katak tidak berkaki, katak bertanduk, tuntong laut dan lain-lain. Keasyikan herping biasanya sejalan dengan pengetahuan herper itu sendiri. Jika pengetahuannya semakin baik, maka dia akan memiliki ketertarikan yang lebih mendalam.
Dunia malam itu adalah sesuatu yang sangat menarik. Banyak “bonus” yang bisa dijumpai. Maka orang-orang biasanya tidak melakukan herping sekali saja.



Sesi Tanya Jawab
Fahmi:
1. persiapan apa aja yang harus dilakukan untuk herping, baik dari segi alat, fisik, teknik, dan lain-lain?
2. Tolong ceritakan pengalaman herping paling seru!
 Jawaban:
1.      Hal yang pertama disiapkan adalah mental dan keinginan. Alat-alat untuk herping sederhana saja sesuai dengan keperluan di lapangan, misalnya senter kepala, sepatu boat, jas hujan, tenda dan perlengkapan kalau mau bermalam, jangan lupa buku identifikasi. Dan tentunya kamera agar apa yang dilihat terabadikan. Fisik juga harus fit karena di aliran air sedikit lebih dingin.
Teknik herping sendiri,  saya rasa jalan dimulai dari hilir ke hulu dan menerangi kanan-kiri aliran air.
2.      Pengalaman herping paling seru adalah ketika saya pernah ke Papua untuk mencari tempat yang cocok untuk pelepasan kura-kura moncong babi. Saat itu bermalam di aliran sungai dan ketemu orang-orang, satwa dan habitat yang baru buat saya.

Mandira:
Bagaimana cara meneliti satwa liar dalam proses herping, Bang? Kalau satwanya tiba-tiba pergi itu bagaimana?
Jawaban:
Itu mantapnya herping dan hewan malam ini. Kita bisa dekat sekali sama amfibi dan reptil. Jarang sekali kita kehilangan objek, kecuali jenis cicak malam. Di luar itu umumnya bisa kita dekati hingga 20 cm.

Sifat:
1.      Boleh diceritainkan pengalaman paling tidak menyenangkan pada saat herping?
2.      Hewan apa yang sampai saat ini belum difoto? Dan kenapa alasannya?
3.      Adakah komunitas herping di indonesia? Untuk melakukan herping apakah harus bisa foto? Dan apakah harus malam herping amphibi dan reptilnya?
4.      Kalau herping malam-malam menakutkankah? Pernahkah ketemu hantu saat herping?
Jawaban:
1.      Hampir tidak ada waktu menjalaninya, tapi setelah itu tenda bocor yang harusnya jadi menikmati capai di sisa malam.
2.      Yang belum terfoto sampai saat ini adalah kadal gunung api, alasannya kadal gunung api hewan langka dan hanya menyukai lingkaran cicin api. Catatan temuannya sudah lama sekali oleh ahli yang sudah wafat.
3.      Untuk komunitas, di Medan ada. Namanya Herpetologer Mania. Yang lain sifatnya pecinta yang memelihara. Yang lainnya juga ada yang sifatnya lebih kaku, yakni penelitian seperti di IPB.
Untuk melakukan herping tidak harus bisa fotografi. Karena kenikmatan itu sifatnya personal, jadi kalau seseorang sudah cukup puas dengan melihat saja, cukuplah itu.
Memang tidak harus malam, misalnya untuk herping kadal-kadalan. Sebagian besar amfibi dan reptil aktif malam hari, jadi kita lebih baik menyesuaikan.
4.      Kita bahkan ingin ketemu hantunya. Bahkan cewek-cewek lebih banyak menyukai kegiatan ini.

Sifat:
Menanggapi point satu dong. Maksudnya tenda bocor apa?
Jawaban:
Maksudnya, saat kegiatan mencari amfibi reptil selalu menyenangkan. Tapi waktu mau istirahat dan merenggangkan kaki, tenda kami pernah kehujanan, airnya masuk dan membasahi seisi tenda. Waktu yang seharusnya untuk menikmati capek, jadinya untuk memperbaiki tenda :)

Enra:
1.      Kepuasan seperti apa yang didapat dari herping?
2.  Aku pernah coba melihat dan memotret hewan-hewan kecil di kebun dekat rumah, tapi belum pernah yang ekstrim. Hewan paling mengerikan seperti apa yang pernah Bang Jun dapatkan?
3.      Herping ini ada jurnalnya gak, Bang?
Jawaban:
1.      Wah sangat puas sekali-mungkin untuk saya. Kalau bertemu jenis hewan yang jarang atau belum pernah ditemui sebelumnya itu akan memberi kita kepuasan, dan mungkin tidak bisa tidur malam itu.
2. Semua jenis ular mengerikan, tapi berhasil memotretnya akan memuaskan. Tentunya untuk menangani ular harus ada ilmu tambahan.
3.    Jurnalnya ada, saya sendiri tidak terlalu suka membaca yang ilmiah. Sulit saya cerna. Saya sendiri jadi Pemred untuk tabloid digital Herpetologer Mania. Mungkin bisa dibaca-baca :)

Inah:
1.      Terus lokasi herping di mana yg recommended buat newbie?
2.      Kira-kira untuk yang mau mencoba pertama kali harus bergabung dengan komunitas atau bisa bersama yang pernah/terbiasa herping saja?
Jawaban:
1.  Di habitat amfibi reptil, ciri-cirinya lembab atau ada genangan air. Misal kolam, danau, atau mungkin saja destinasi wisata, misal air terjun, dan lain-lain.
2.      Sebaiknya jangan dilakukan sendiri, minta dikawani yang sudah pernah. Saya pernah ajak sebuah kelas fotografi, mereka tidak melihat apa-apa padahal suara katak ada di mana-mana. Mungkin sekali dua kali herping sudah bisa menjajaki tempat yang lebih menantang.

Azzam:
Bagaimana teknik 'mendapatkan momen yang pas' dalam memotret reptil yang kadang gerakannya tidak diduga-duga, misal tiba-tiba muncul lalu kita baru siap-siap kamera dan hewan tersebut sudah menghilang?
Jawaban:
Itu enaknya amfibi reptil, mereka cukup jinak, asal tidak banyak suara. Biasanya kita bisa dekati dan cara yang baik fokuskan ke mata objek, biasanya hasilnya akan fotojenik. Mau yang lebih mantap, sabar dan tunggu sampai objeknya melakukan sesuatu, sedangkan kita sudah siap menekan shutter. Mantap.

Iin:
1.      Antisipasi supaya binatang menghilang saat diamati itu bagaimana caranya?  Maksudnya saya masih tidak ngedong kalau mendekati tanpa suara. Karena biasanya di hutan banyak bunyi kresek-kresek. Ada tekniknya tersendiri kah untuk mendekati hewannya?
2.      Pernahkah bertemu atau motret buaya?
3.      Selama herping perlu membawa perlengkapan medis jugakah?
4.      Lalu kalau memotret hewan malam hari pake flash atau bawa lampu tembak? Apa cukup pakai headlamp saja? Mode yang biasa dipakai mode apa?
Jawaban:
1.   Kalau begitu kita mendekatinya pelan-pelan. Cahaya senter saja, dan jangan terlalu liar. Itu saja saya rasa, amfibi reptil tidak seliar yang kita duga kalau malam hari.
2.      Kebetulan belum pernah memotret buaya, sebab masih punya koleksi foto di penangkaran.
3.   Tentu saja bawa. Kalau herping dengan komunitas, ada penanggungjawabnya sendiri di bagian medis.
4.      Kalau saya biasanya pakai flash eksternal, saya taruh posisinya di samping objek biar dimensinya muncul. Saya lebih suka mode Aperture Priority dan tergantung fotografernyalah itu :)

Bening:
1.      Selain reptil ada lagikah klub semacam herpetologer mania untuk jenis hewan lain di Indonesia? Misalnya serangga, bekicot, atau burung?
2.      Kalau boleh tahu, bagaimana awalnya Bang Jun bisa jatuh cinta pada herphes?
3.      Biodiversitas reptil di Indonesia sesuatu banget ya?
Jawaban:
1.     Ada, kurasa banyak. Contohnya Wildlife Photografer Indonesia. Yang burung biasanya ada di tiap provinsi. Yang serangga ada fotografer makro di Kota Medan. Biasanya komunitas itu kalangan ilmuan atau fotografer, akan sedikit beda dengan Herpetologer Mania.
2.      Awalnya karena tugas kuliah. Habis itu ketagihan sampai sekarang.
3.      Pasti. 7 jenis penyu dunia, enam di antaranya ada di Indonesia. Kura-kura ada 40 jenis, termasuk yang terkaya di dunia. Begitu juga dengan lainnya. Untuk jenis katak sifatnya endemisitsnya tinggi. Di Sumatera ada yang hanya ditemukan di sini, misal Huia sumatrana, dan lain-lain.

Arif Rahman:
1.      Pernahkah ikut perlombaan foto hasil herping?
2.   Di Indonesia dan di dunia, di mana sih tempat yg menurut ilmu, pernah baca atau pengalaman, kang Jun yang paling asik untuk herping?
3.    Kira-kira, dari herping bisakah mendapatkan penghasilan?                             
Jawaban:
1.      Kebetulan tidak suka yang lomba-lomba. Biasanya kita diajakin menjuri lomba :)
2.      Bagi saya Papua adalah salah satu yang asyik, karena setiap temuan adalah hal baru bagi saya di Sumatera. Di Sumatera kita tidak punya kura-kura leher ular :)
3.      Saya menulis cerita dapat honor, terus sekarang lagi diusahakan bikin buku dan paket. Saya pikir ke depan akan menjadi sebuah kegiatan yang juga tak kalah menariknya dengan industri pariwisata yang lain.

Angga:
1.      Ini katak jenis apa?
2.      Saya pernah menemukan ular di jalan. Saya ambil dan saya masukkan dalam botol untuk saya bawa pulang.  Lalu ortu saya memarahi dan meminta saya melepas ular tersebut.
Jawaban:
1. Itu katak bergaris (Stripped frog). Jenis ini adalah katak pohon yang paling umum dan biasanya ditemukan di daerah pemukiman manusia. Di hutan primer sangat jarang, bahkan tidak ada.
2. Sebaiknya ular tidak ditangkap. Apalagi ular berbisa, kemungkinan akan membahayakan keluarga. Biar ular bebas, apalagi masih anakan ular, dia perlu main-main :)
***

Tanpa terasa, waktu sharse kali ini berlangsung melebihi batas waktu seharusnya. Di akhir sharse ini Bang Jun menambahkan bahwa herping adalah kegiatan perjalanan positif yang memberi pejalannya kebaikan dan jalan yang dilaluinya persahabatan. Herping menjadi salah satu kegiatan yang bernilai edukasi, olahraga, dan cinta lingkungan. Dengan membesarkan  kegiatan positif semacam ini, maka kita mungkin telah mengecilkan ruang gerak kegiatan yang sia-sia. Semoga kelak kita semua bisa mencobanya. Terima kasih.
Amin. Semoga suatu hari nanti keluarga FIM Traventure bisa melakukan herping bersama! ^_^




TKI di Malaysia

Ahmad Adib
Diskusi malam ini kembali FIM TRAVENTURE menghadirkan sebuah tema yang tidak kalah menarik dengan tema sebelumnya yaitu tentang “TKI di Malaysia”. Bomber yang akan membawakan tema menarik tentang TKI ini yaitu Ahmad Adib atau biasa dipanggil Adib seorang mahasiswa PNJ yang sekarang kesibukannya sebagai aktivis kegiatan di luar kampus yang salah satu kegiatannya adalah VTIC (Volunteerism Teaching Indonesian Children) dan sedang mempersiapkan kelulusan kuliahnya. Tentang kegiatan volunteering inilah yang sekarang akan didiskusikan oleh Adib.

Kenapa Adib membahas TKI di Malaysia karena salah satu kegiatan volunteering yang diikuti oleh Adib ini adalah kegiatan sosial dalam bidang pendidikan yaitu dengan mengajar anak-anak para TKI di Miri, Malaysia. Kegiatan sosial ini merupakan salah satu pengalaman traveling unik yang pernah saya alami karena berbeda dengan traveling lainnya yang hanya jalan-jalan saja. Pada awalnya saya ingin traveling ke salah satu negara di ASEAN tapi ternyata saya menemukan sebuah kegiatan seperti conference dan semacamnya, eh ketemulah kegiatan VTIC ini dan saya pun tertarik, kemudian mendaftar dan lolos untuk mengikuti volunteering ini.

Selain menceritakan TKI di Malaysia saya juga akan menceritakan peluang traveling gratis bagi mahasiswa, jadi tidak hanya VTCI saja program yang seperti ini tapi ada banyak sekali kegiatan kemahasiswaan yang sebenarnya bisa kita manfaatkan untuk kegiatan positif kita sekaligus untuk kita jalan-jalan.
Para Volunteer & Siswa
Mengenai TKI di Malaysia jadi di Sarawak banyak perkebunan kelapa sawit Malaysia dan pekerja LN nya > 90% adalah dari Indonesia. Mereka tinggal bareng keluarga nya dan banyak juga yang melahirkan anak disana. Anak mereka lahir, tumbuh dan berkembang di Sarawak dan kebanyakan dari mereka sama sekali belum pernah ke Indonesia. TKI tersebut legal ada paspor, akte dan berbagai berkas lainnya sehingga memang diakui keberadaannya disana. Namun anak-anak mereka (anak-anak TKI) yang seharusnya mendapatkan pendidikan yang layak tapi nyatanya mereka belum mendapatkan hal itu. Maka dari itu saya dan beberapa mahasiswa di Indonesia mengajar di sekolah non formal disana untuk membantu memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anak para TKI disana. Oia untuk program VTIC ini kerja sama dengan KJRI, KBRI, dan Persatuan Guru Indonesia sekolah non formal di Sarawak.

Berikut beberapa pertanyaan pada sesi sharse kali ini :
1.      Angga:  Ada upin ipin ga di sana? Guru yg ngajar d sekolah non formal itu di gajih gk?

Jawab: Mungkin ada tapi saya ga ketemu, tapi setiap pagi mereka menyapa saya dengan, "selamat pagi Cikgu". Cikgu (guru) disana digaji. Besarnya gaji tergantung sekolah nya. Ada beberapa sekolah sudah kriteria formal namun status masih non formal gaji besar tapi yang sekolah non formal gaji kecil banget.
Darimanakah gaji guru berasal? Apakah di ambil dari spp adik-adik yang bersekolah disana?Jawab: yang gaji kalau yang sekolah non formal dari perusahaan kelapa sawit. Kalau yang sekolah formal dari KBRI/KJRI

2.      Uli: kalo tertarik ikut itu jd relawan gimana caranya? Ada tesnya ga? Tesnya apa aja?

Jawab:  kemarin habis oprec bulan April lalu. Alhamdulillah ada 10 kampus. Ada tesnya juga (administrasi, interview, dan kesanggupan).
Uli: Biayanya sebesar apa kak kalo boleh sharing dan untuk apa aja?
Jawab: biaya 2,5 jt untuk pesawat dan makan disana. Biaya pesta 2jtan, 500rb makan. Tahun
lalu KBRI dan persatuan guru disana membantu dana untuk operasional.

3.      Ihsan : Apa respon para penduduk dgn ada guru dr beda negara cem cikgu adib? Bagaimana cara adib menyesuaikan bahasa dan budaya yg berbeda dgn murid2 yg adib ajar?

Jawab :
·      Saya mengajar di sekolah pemukiman TKI. Jadi semua murid dan ortu murid orang Indonesia semua. Cikgu disana pun orang Indonesia juga. Kebanyakan Cikgu disana adalah perempuan, suami mereka pekerja. Jadi Cikgu yang ada memang terbatas yang ada aja disana. Tapi kemarin di sekolah saya ada satu murid Filipina biasa aja sih, gada yang beda.
·        Bahasa menggunakan melayu. Orang Malaysia di Sarawak ga seperti KL, banyak yang suku iban (entah agama apa), muslimnya ga banyak. Saya banyak interaksi dengan orang Indonesia disana, ga terlalu beda sih. Tapi terasa orang Indonesia disana direndahkan oleh Malaysian
Upacara Bendara Indonesia di Malaysia

4.      Bintang:  Anak kecil indonesia di malaysia, memang pendidikannya seperti apa?  Apa mereka mayoritas tidak disekolahkan orang tuanya?

Jawab:
·     Mereka ga mengenal pendidikan sama sekali selain dari sekolah non formal disana. Bahkan yang mendapatkan pendidikan aja <10%. Orang tua mereka pun sibuk bekerja, karena semua usia produktif harus bekerja, termasuk wanita.
·   Kalau ada sekolah mereka sekolahkan, tapi kebanyakan di Sarawak belum ada sekolah, hanya <10%

5.      Iin: Tapi maksudnya kalopun ada sekolah formal mereka punya Hak untuk sekolah kan?

Jawab: Punya punya Kak, Gratis juga kok

Closing statement dari Adib adalah Salah satu kesempatan Traveling adalah dengan mengikuti event organisasi. Banyak hal yang bisa didapatkan, selain jalan-jalan juga bisa menebar manfaat. Melalui VTIC saya mendapatkan banyak pengalaman mengajar di anak TKI di Sarawak.



More info:
www.vticupate.com
@VTIC_
@heydeeb